Ramah Tamah di Kediaman Pembina/Pengasuh
23 Februari 2019
BLANKO KRS
25 Februari 2019
Show all

Ritual Haji 02

(SAYA, BUKAN PENGUASA)
Oleh : Dr. H. Muhammad Ahyar, M.Si.

Saat seorang calon haji sudah memulai ritualnya dengan agenda walimatussafar atau tasyakkuran haji maka disaat itu pula, ia akan kedatangan para penziarah. Mereka datang secara personal dan berkelompok ke rumah calon haji. Apa yang para penziarah lakukan merupakan konstruksi masyarakat Sasak tentang haji. Kedatangan para penziarah ke rumah calon haji tanpa surat undangan (kecuali acara walimatussafar) karena sudah menjadi tradisi orang Sasak.
Menerima para penziarah siang dan malam membutuhkan energi ekstra para calon haji. Para calon haji sendiri harus standby menunggu para penziarah yang waktu kedatangannya tidak menentu, bisa pagi, siang, sore dan bahkan malam hari.
Para penziarah berasal dari berbagai golongan. Mereka yang berkelompok terdiri dari kaum muda sampai dewasa, laki-laki dan perempuan. Mereka datang atas nama kelopok barzanji, kelompok hiziban, kelompok zikir zaman, dan kelompok tarekatan. Mereka semua datang silih berganti dan bahkan dalam satu malamnya bisa datang dua sampai tiga kelompok barzanji.
Penumpukan massa kelompok penziarah di rumah calon haji bukan hal yang aneh tetapi hal yang biasa mereka lakukan, apalagi calon haji di suatu desa kuantitasnya banyak. Para penziarah tidak hanya datang dari dalam desa tetapi juga desa dan daerah lain.
Kuantitas para penziarah yang begitu banyak berdatangan di rumah calon haji bukan berarti si calon haji seorang penguasa atau pejabat pemerintahan. Keberkahan dan do’a yang mereka harapkan sari calon haji yang hendak berangkat menghampiri Baitullah.
Calon haji hanya tamu Allah Swt yang dipanggil untuk menghampiri Baitullah. Berserah diri dengan semua entitas kemanusiaannya tanpa mengharap hulul dengannya tetapi penyerahan agar hajinya diterima untuk kemudian menjadi manusia haji dengan predikat haji yang mabrur.
Haji mabrur adalah haji yang dijalankan sesuai tuntunan syari’at mulai masa persiapan, masa pelaksanaan haji dan kembali ke masyarakatnya. Haji mabrur juga diartikan sebagai haji yang mampu memberikan dampak positif terhadap masyarakatnya seusai menjalankan proses haji di Mekah.
Manusia haji dengan demikian adalah orang yang mampu menjadikan dirinya tauladan bagi orang lain dan masyarakatnya. Tutur katanya menyejukkan, penebar kebenaran dan mampu berperan sebagai problem solver di tengah-tengah masyarakatnya. Inilah hakekat haji mabrur.
Lawan dari haji mabrur yakni haji mardud (tertolak). Maksudnya bahwa haji mardud adalah manusia haji yang selalu membuat ulah, onar dan seringkali memunculkan keributan di dalam masyarakatnya. Haji mardud mungkin saja kuantitasnya lebih banyak dibandingkan haji mabrur. Indikatornya sederhana saja yakni mampu tidaknya memerankan diri menjadi penyejuk, penenang dan inspirator bagi masyarakatnya.
Terkadang saya sering bertanya bahwa melihat banyaknya para penziarah yang berdatangan ke rumah calon haji, baik siang maupun malam, maka beginikah rasanya menjadi pejabat saat menerima tamu dari rakyatnya sendiri. Tapi entahlah.Calon haji bukanlah penguasa tetapi manusia biasa yang dipanggil Tuhan untuk datang menfhampiri Baitullah. Itu saja. Lalu bagaimana tentang para penziarah yang terus berdatangan ke rumah calon haji?
Para penziarah menjadi realitas dan gambaran dari kuatnya nilai komunalisme Muslim Sasak di lombok. Tidak begitu halnya dengan masyarakat Islam Jawa yang hendak berhaji. Muslim jawa yang hendak berhaji cukup dengan mendatangi para tetangganya satu hari sebelum keberangkatannya (setidaknya saya saksikan di Yogyakarta).
Tradisi tentu saja tidak harus seragam. Muslim Sasak di lombok memang berbeda tradisinya dengan Muslim Jawa, Sunda, Aceh dan Muslim lainnya. Konstruksi ziarah haji orang sasak sudah given dan menjadi warisan dari leluhurnya.
Saya, bukan penguasa yang bisa merubah sejarah. Kami, hanya calon haji yang hanya bisa neneruskan tradisi untuk menebarkan kebenaran tentang masa persiapan menuju Baitullah. Ini cara Muslim Sasak calon haji meneruskan tradisi leluhurnya. Mendo’akan, saling mengihlaskan atas khilaf menjadi inti dari kedatangan para penziarah ke rumah calon haji. Kuantitas para penziarah yang mendatangi kediaman calon haji tidak identik dengan punguasa yang ramai dikunjungi rakyatnya.Calon haji sebatas tamu Allah Swt yang diundang menghampiri-Nya di Baitullah.
Wallahul muwafiq ila Darissalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Open chat
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarqatuh..Ada yang bisa kami bantu ?